Pancung (Qisas) | Hukum Pancung Tidak Menyakitkan | Pengakuan Algojo Hukum Pancung

pancung (qisas) | hukum pancung tidak menyakitkan
Ruyati dihukum pancung oleh Pemerintah Arab Saudi karena membunuh majikannya. Arab Saudi memang negara Islam yang paling ketat menerapkan hukuman mati (qisas).

Arab Saudi menerapkan langsung ayat Al Quran, Surat Al-Baqarah ayat 178 : ayat tersebut menyebutkan kewajiban hukum pancung (qisas) pada orang­orang yang terbunuh, orang merdeka dengan orang merdeka , hamba sahaya dengan hamba sahaya dan perempuan dengan perempuan. Akan tetapi barangsiapa yang diampunkan untuknya dari saudaranya sebahagian, maka hendaklah mengikuti dengan yang baik, dan tunaikan kepadanya dengan cara yang baik.

Hukum pancung bisa diampuni jika keluarga korban memaafkan. Sebagai pemaaf tersebut, pembunuh mengganti denda dengan 100 ekor unta, 40 diantaranya unta yang sedang hamil. Dan apabila dirupiahkan mencapai Rp 4,7 miliar.

Di Jaman sebelum Islam, apabila ada anak dibunuh, maka akan dibunuh balik si pembunuh, orang tua dan seluruh kerabat pembunuh. Inilah mengapa ayat tersebut turun, dengan tujuan untuk memotong budaya jahiliah yang berkembang sebelum datangnya Islam, dan menekankan asas keseimbangan yaitu satu nyawa dibalas satu nyawa, bukan satu nyawa dibalas satu keluarga.

Sebenarnya ada hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Imam Al Baihaki yang menyebutkan sabda Nabi Muhammad SAW yaitu : harus diberikan maaf apabila yang membunuhnya karena lupa, terpaksa dan bersalah. Namun hadist tersebut tidak dilakukan, karena lebih merujuk pada Al-Quran yang kedudukannya lebih tinggi.

Pemberlakuan hukum pancung tentunya tidak lepas dari kritik. Sistem peradilan untuk hukum pancung di Arab Saudi tidak terbuka, dan tidak dapat diikuti oleh setiap orang. Selain itu, tidak ada hukum acara bagaimana cara pembuktian di peradilan. Seperti ada diskriminasi, karena orang non Arab Saudi langsung diterapkan hukum pancung. Kalau orang Arab sendiri tidak, tapi dimaafkan.

Model kepemimpinan struktur pemerintahan di sana, Raja menguasai ulama, sedangkan ulama yang tidak sesuai dengan keyakinan Raja disingkirkan.

Pancung : mendengar kata-kata itu memang menyeramkan, namun hukum yang berlaku di suatu negara memang tidak bisa diganggu gugat. Hukum pancung katanya tidak menyakitkan dibanding hukuman mati lainnya seperti ditembak. Emang udah nyoba.. hehee katanya sich!

Pernah liat pengakuan Algojo hukum pancung di Silet RCTI, lupa namanya : ia bilang banyak yang sudah dieksekusi oleh pedangnya, bahkan temannya sendiri. Apa nggak ngeri dan terbayang-bayang setelahnya?? yah, namanya juga pekerjaan.. jika ia gentar atau kasihan, akan menyakitkan bagi terdakwa hukum pancung.

Credit : Detik, Silet

1 komentar:

Anonim mengatakan...

tidak ada diskriminasi sama sekali biarpun dia orang saudi,kalau dia salah dan terbukti melakukan pembunuhan maka dia tetap di hukum pancung,di maaf kan karena keluarga korban memaafkan,bukan karena dia orang arab, kalau keluarga korban memaafkan biar orang arab atau tidak ya si pembunuh ga jadi di pancung,dan benar hukum pancung itu tidak sakit dibandingkan dengan tembak apalagi hukum gantung,maka nya di quran di terapkan hukum itu.bayangkan saja kalau ada saudara kita yg dibunuh,pasti kita ingin si pembunuh mati juga kan, saya yakin mati nya majikan suryati lebih menyakitkan daripada mati nya suryati yg dipancung,karena majikan suryati itu di gorok pakai pisau pencacah daging.saya setuju dengan hukuman qisas ini.